SIASAT AMERIKA AMBIL ALIH G20 UNTUK KEPENTINGAN POLITIK JADIKAN INDONESIA HANYA EO

Pertemuan G20 kali ini banyak yang baru, ternyata dipakai oleh pihak Barat dan Amerika untuk mengarahkan anggota G20 untuk mengucilkan Putin.
G20 mendadak menjadi forum geopolitik dengan memfokuskan penyerangan terhadap Ukraina sebagai dosa besar.
Hal ini tidak bisa kita diamkan, Jangan menjadikan ajang KTT G20 sebagai ajang politik.
Apa buktinya? Forum G20 dipakai pihak Amerika untuk menjadi ajang politik dunia, bukan forum ekonomi.
Kemarin, tanggal 12 November 2022, sebelum acara G20 di Bali, delegasi Amerika dipimpin langsung oleh Biden.
mengadakan pertemuan dengan kepala negara ASEAN dalam KTT ASEAN-Amerika Serikat di Hotel Sokha, Nom Pen, Kamboja.
Acara sebelum KTT G20 Bali tersebut adalah acara yang dijadikan Amerika untuk menggiring opini mengucilkan Rusia. Oleh karena itu, delegasi Rusia yang dipimpin Menteri Luar Negerinya, Lavrov, marah terhadap Amerika.
Sergey Lavrov, yang memimpin delegasi Rusia dalam pertemuan internasional KTT G20, juga hadir di Nom Pen, mengatakan pihak Barat mencoba memilitarisasi Asia Tenggara untuk menahan kepentingan Rusia dan Tiongkok di kawasan Asia Tenggara.
Pernyataan ini menjadi tahapan baru konfrontasi Rusia dan Barat.
Dalam pertemuan G20 di Bali, Ukraina tampaknya menjadi agenda utama pemimpin-pemimpin Barat yang mengkritik secara terbuka invasi Rusia ke Ukraina, serta menekan Tiongkok dan India.
Lavrov juga mengkritik langkah Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara, yang akan menjadikan Medan persaingan strategi tahun-tahun ke depan antara pihak Barat dan pihak Timur, yaitu Rusia dan Tiongkok.
Untuk itu, Amerika dan sekutu-sekutu NATO mencoba menjadi tuan di ruang KTT ASEAN dan G20, kata Lavrov. Padahal, baik Amerika maupun Rusia bukan anggota ASEAN.
Tapi beberapa pemimpin dunia menghadiri pertemuan perkumpulan 10 negara itu menjelang pertemuan G20 di Bali. Ini akan menjadi biang masalah di G-20, tentunya dalam dua bentrokan hegemoni Barat dan Timur.
Pihak Moskow menggambarkan Rusia-Tiongkok sebagai pemimpin perlawanan global versus dominasi Amerika Serikat dan Barat di panggung internasional. Karena itu, Amerika dan Barat menganggap Tiongkok-Rusia adalah dua ancaman utama global.
Kembali kita bertanya, apa strategi Indonesia sebagai tuan rumah untuk menghalangi acara G20 diambil alih pihak Barat dan menjadi forum bukan ekonomi, tetapi forum politik?
Kita semua tahu strategi Amerika dan Barat adalah membuat Putin harus tidak datang di G20. Jadi, jangan-jangan di dalam acara G-20 nanti bisa tidak menghasilkan komunikasi apapun karena masalah geopolitik dunia.
Sebelumnya kita bahas apa itu G20 dan apa kendala pihak Barat yang kedua setelah mungkin akan berhasil mengucilkan Putin di G-20. Namun, masalah kedua ini tidak mudah untuk Amerika taklukkan, yaitu antara Saudi dan Tiongkok.
Strategi pertama pihak Amerika untuk mengambil kendali KTT G20 adalah dengan tidak menghadirkan Putin dengan cara membawa kekuatan militer Amerika ada di dekat Australia dan perairan Indonesia. Keamanan Putin menjadi terancam.
Lebih baik Putin tidak datang. Kita akan detailkan apa yang akan terjadi di KTT G20, dimana hal ini bisa menjadi tolok ukur apakah dunia benar-benar sesi di tahun 2023 atau menjadi terbalik menjadi membaik.
Ini penting untuk new main1 pahami untuk langkah sukses new main ke depannya. Jadi, apa itu G20 dan KTT G20? Kelompok 20 atau G20 atau Grup of
Pertemuan G20 kali ini memang banyak yang baru, terutama dalam hal geopolitik. Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya tampaknya berusaha mengarahkan agenda G20 untuk mengucilkan Rusia, terutama terkait dengan invasi Ukraina.
Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga agar G20 tidak menjadi ajang geopolitik semata. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil Indonesia:
1. Menjaga netralitas: Indonesia harus menjaga netralitasnya dan tidak memihak pada salah satu pihak. Ini penting untuk menjaga kepercayaan anggota G20 lainnya.
2. Fokus pada isu ekonomi: G20 awalnya dibentuk sebagai forum ekonomi. Indonesia harus memastikan bahwa agenda G20 tetap fokus pada isu-isu ekonomi dan tidak teralihkan oleh isu-isu geopolitik.
3. Mengaktifkan peran ASEAN: Sebagai anggota ASEAN, Indonesia bisa mengaktifkan peran ASEAN dalam G20. Ini bisa membantu menjaga keseimbangan dan mencegah dominasi negara-negara Barat.
4. Meningkatkan komunikasi: Indonesia harus meningkatkan komunikasi dengan anggota G20 lainnya untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang agenda dan tujuan G20.
Dengan mengambil langkah-langkah ini, Indonesia bisa membantu menjaga agar G20 tetap menjadi forum yang efektif dan berguna untuk semua anggotanya.
Komentar